DPP HIMAMSI Angkat Bicara Terkait Pembangunan Kawasan Tembok Berlin

Ketua DPP HIMAMSI, Carlos Kalasuat (2)

Lensapapua-  Terkait pembangunan kawasan Tembok Berlin di jalan Poros kota sorong, Karlos Kalasuat  Ketua DPP HIMAMSI mengatakan bahwa Perkembangan sebuah kota, wilayah atau bangsa dan suku bangsa di seluruh Dunia tidak terlepas  atau terpisahkan dari peradaban “Sejarah” Masa lalu yang terdapat dan termuat dalam situs-situs bersejarah. Jumat 6/9.

Usia atau umur sebuah kampung atau desa atau kota dapat di ukur dan dan dilihat berdasarkan bukti atau fakta sejarah yang termuat dalam situs-situs sejarah di kampung, desa ataupun kota tersebut.

Di tanah Papua peradaban sejarahnya di mulai dari pulau Mansinam pada tahun 1855 silam. Sementara di kota sorong atau (Maladum) peradaban sejarahnya sampai saat ini mungkin tidak di ketahui oleh pemerintah kota sorong tetapi di kalangan suku Moi dan pihak GKI di tanah Papua lah yang mengetahui sejarah peradaban kota sorong.

Menurut hemat kami bahwa usia kota sorong tidak bisa di dasarkan pada Undang-Undang pembentukan kota sorong yang lahir pada tahun 1999,karena fakta dan kenyataannya sangat berbeda jauh dengan perkembangan kota sorong saat ini. Usia kota sorong saat ini dapat di lihat dari beberapa bangunan tua yang ada di kota sorong yang tidak pernah di rawat atau di renofasi oleh Pemerintah setempat, serta sebagian telah di musnahkan, di gusur di jadikan lahan bisnis oleh pelaku ekonomi.

Bangunan-bangunan tua termakan usia tersebut di bangun oleh Pemerintah Belanda pad era Tahun 1930-an untuk kepentingan perusahan mintak NNGPM dan Perkantoran Pemerintah belanda. Sejarah peradaban kota sorong tidak bisa di pisahkan dengan suku Moi dan pihak gereja GKI di tanah papua. Sejak era 1920-an masyarakat Moi telah membangun perkampungan penduduk sepanjang pantai kota sorong dan pada tanggal, 27 oktober 1927, pertama sekali injil masuk di daratan Maladum (sorong).

 Seiring dengan masuknya pekabaran injil juga di sertai dengan Pemerintahan Belanda pertama sekali di daratkan di Tanah Moi. Dari sekian perkampungan Suku Moi sepanjang pantai Kota Sorong lahirlah cikal bakal kota sorong yang mula-mula  tersebar sepanjang pantai ari Klademak sampai pantai Lido hingga Boswesen (Klabala). Di atas puing-puing perkampungan tersebut inilah terbentuk kota sorong yang kita saksikan hari ini. Ujarnya.

Dengan demikian maka usia kota sorong saat ini adalah terhitung 86 Tahun (1927-2013), kami jelaskan kepada semua publik di kota sorong hari lahir atau jadinya kota sorong adalah 27 oktober 1927, dan harus di peringati setiap Tahun oleh Masyarakat. Berdasarkan fakta sejarah tersebut diatas maka dengan segala hormat kami mendesak Pemerintah agar segera menghentikan sementara pekerjaan pembangunan jalan di pantai Lido Kota Sorong, serta mencari solusi alternatif, artinya program pembangunan jalan dua jalur dari bibir pantai Lido, karena pantai Lido yang di bentengi oleh tembok tersebut adalah saksi bisu dari sejarah merupakan situs sejarah kota sorong yang seharus nya di lindungi bukan di rusak dengan alasan pembangunan.

 Pada prinsipnya kami mendukung program pembangunan,karena kota sorong adalah kota kebanggan kami, kota leluhur kami suku Moi, maka wajar kami bertindak keras terhadap proses pembangunan yang tidak memperhitungkan nilai-nilai sejarah masa lalu yang merupakan situs sejarah peradaban terbentuknya kota sorong.

Kami tidak setuju dengan proses pembangunan yang asal jadi dalam artian habis proyek ada uang. Karena kami mau kota ini di bangun dengan Iman dengan Kasih dan hati. Sekali lagi kami tegaskan kepada Pemerintah kota dan pihak-pihak yang melaksanakan pekerjaan untuk sementara di hentikan dan mari kita berbicara solusi yang terbaik, kita harus saling menghargai karena kita membangun di hari ini merupakan sejarah yang kita wariskan kepada anak cucu kita di hari esok, karena kota sorong telah di bangun di atas sejarah yang terjadi di masa lalu. Kami sebagai anak Negeri Malamoi akan mengawal segala bentuk pembangunan yang terjadi di atas kota sorong tercinta. (Asa/Red)

 

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.