Seluruh Paguyuban di Biak Numfor, Deklarasikan Tolak Diskriminasi, Radikalisme dan Rasisme

Lensapapua, Biak – Seluruh Paguyuban Nusantara yang ada di Kabupaten Biak numfor menggelar Deklarasi menolak keras Diskriminasi, Radikalisme dan Rasisme di Indonesia serta pernyataan permohonan maaf dari masing-masing Paguyuban akibat Rasisme yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab di Malang dan Surabaya sehingga menyakiti hati orang Papua.

Deklarasi ini dinyatakan secara bergantian, diawali ketua bhineka tunggal ika Biak numfor di lanjutkan oleh ketua – ketua Paguyuban di hadapan Media dan disiarkan secara langsung di RRI Biak, Kamis (22/8/2019). Di saksikan oleh Bupati Biak numfor Herry Ario Naap, Wakil Ketua II DPRD Godlief Kawer, Ketua Forum Peduli Masyarakat Papua Biak numfor Willem Rumpaidus, Dandim 1708 Biak numfor Letkol Inf Ricardo Siregar Serta Tokoh Adat Biak.

Masing-masing suku yang tinggal di Biak numfor berjanji akan menghargai suku Byak, menghargai orang Byak dan orang Papua, tidak akan melakukan rasisme dan Intoleran, akan menjaga toleransi umat beragama, akan menjaga persatuan dan kesatuan serta Persaudaraan, akan menghargai dan menjaga kebhinekaan yang ada di Biak Numfor, siap mendukung program kerja pemerintah kabupaten Biak numfor serta siap menciptakan Biak numfor aman dan damai.

Wakil Ketua II DPRD Godlief Kawer mengungkapkan bahwa pernyataan sikap ini belum cukup untuk membalut luka yang sudah tertoreh di hati orang papua sehingga Deklarasi yang telah disampaikan ini harus dibuktikan dalam tingkah laku dan kehidupan sehari hari bersama orang papua di Biak numfor.

Sementara itu Bupati Biak numfor mengatakan bahwa Deklarasi ini sebagai bentuk solidaritas kebersamaan melalui pernyataan deklarasi damai untuk menjaga toleransi di Kabupaten Biak numfor.

“Bagi saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, seluruh ormas yang ada di Biak numfor, biarlah ini tidak hanya kata-kata saja, tetapi harus dibuktikan lewat kebersamaan yang nyata untuk menunjukan kepada saudara-saudara dari sabang sampai merauke bahwa kebinekaan ini terwujud di Biak numfor,” Ujar Bupati.

Ini sebagai bukti bahwa orang non papua yang ada di papua khususnya di Biak itu dihargai dan dicintai bahkan diberikan ruang untuk mendapatkan posisi penting pada pemerintahan Kabupaten juga sebagai wakil rakyat di Dprd, untuk itu juga hargai orang Papua, hargai orang Biak supaya jangan menghancurkan persatuan dan kesatuan serta kekeluargaan yang telah tercipta.

Bupati menambahkan, semua yg ada di Biak wajib menjaga kota ini agar aman damai, secara pribadi orang papua tidak diterima dengan rasisme, akan tetapi orang Biak menyampaikan aspirasi dengan cara yang bermartabat dan tidak anarkis, apalagi sampai merusak aset aset daerah yang akibatnya hanya merugikan diri sendiri.

“Kalau saudara dipanggil monyet tidak usah dihiraukan karena kita bukan monyet kita manusia, tdak usah direspon karena di bagian inilah ada oknum oknum ada kelompok-kelompok yang tidak senang kalau kita hidup dalam sebuah toleransi dan kebersamaan, mereka ingin kita terpecah dan hancur jadi jangan terpengaruh,” Tegas Bupati.

Untuk menjaga stabilitas keamanan daerah agar jangan sampai dibonceng oleh oknum oknum tertentu maka Bupati tidak mengijinkan ada lagi aksi aksi yang lain yang dilakukan lagi setelah adanya Deklarasi damai menolak rasisme ini.

“Jadi setelah ini tidak ada lagi kegiatan-kegiatan lain yang membuat keresahan di Biak, Kepada Tni/Polri harus tetap melakukan keamanan, sehingga seluruh roda perekonomian di biak bisa berjalan kembali dengan normal, situasi Biak kondusif seperti sediakala, saya yakin dengan kerjasama semua elemen masyarakat maka Biak numfor akan lebih baik, Tuhan memberkati rakyat Biak numfor,” Tutup Bupati.(red/rin)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.