Forum Peduli Masyakat Papua Biak Numfor Mengutuk Rasisme Kepada Orang Papua

Lensapapua, Biak – Forum Peduli Masyarakat Papua di Kabupaten Biak numfor menyampaikan pernyataan sikap sebagai wujud dari aspirasi yang di sampaikan masyarakat papua di Biak melalui demo damai yang di gelar selama 2 hari di Biak pada 20-21 Agustus 2019 yang melibatkan kurang lebih 5000 orang dengan melakukan longmars pada hari yang pertama, berjalan kaki sejauh 15km dari kantor Dewan Adat menuju kantor Dprd Biak numfor dan hari ke 2 menuju ke kantor Bupati Biak numfor.

Demo ini dilakukan sebagai bentuk aspirasi dan kekecewaan dari seluruh masyarakat papua terlebih khusus dari masyarakat Biak numfor yang mengharapkan keadilan bagi orang-orang papua terkait insiden rasisme yang menimpa masyarakat papua di Malang dan Surabaya.

Ketua Forum Peduli Masyarakat Papua di Biak numfor, Willem Rumpaidus mengatakan insiden yang terjadi kepada mahasiswa yang ada di Malang dan Surabaya berujung kepada penghinaan sehingga viral di media massa, maka orang papua melakukan demo damai/unjuk rasa sebagai pernyataan sikap protes, menyatakan rasa keprihatinan kepada bangsa Indonesia, teristimewa kepada kota Malang dan Surabaya juga kepada beberapa aparat yang terlibat dalam tindakan Rasisme tersebut.

“Masyarakat papua khususnya Biak numfor merasa menyesal dan merasa terhina oleh tindakan rasisme ini, dengan kata-kata penghinaan seperti Monyet dan nyanyian seperti yel yel usir usir orang Papua yang dilakukan oleh oknum oknum tertentu ini,” Ujarnya di Gedung Wanita Biak, Rabu (21/8/2019).

Ini menjadi sebuah perenungan bagi orang papua, sehingga ada muncul statement atau stikma keras ini, “kalau tidak mau kami ya kami merdeka saja ini adalah hal yang muncul sebagai sebuah ekspresi dari rasa kekecewaan orang-orang papua khususnya di Biak numfor,”katanya.

Masyarakat Biak numfor meminta kepada Bapak Bupati dan anggota DPRD Biak numfor agar pernyataan dan aspirasi mereka bisa ditindaklanjuti sampai ke Gubernur Papua, DPRP Papua dan ke pemerintah pusat di Jakarta karena persoalan ini adalah persoalan bangsa yaitu penghinaan antara satu suku bangsa kepada suku bangsa yang lain.

Selain itu, masyarakat meminta kepada Presiden Indonesia, karena kurang lebih 90% masyarakat papua memilih Bapak jokowi dan memenangkan bapak jokowi menjadi Presiden, hingga Presiden harus memberikan perhatian yang sungguh mengenai insiden yang sudah menyinggung perasaan orang Papua ini.

Pernyataan mengutuk dan mengecam tindakan rasisme terhadap orang papua ini juga disampaikan oleh Para Intelektual Biak Herman Warwer dan Max Mansawan serta Tokoh Adat Biak Klif Rumkabu bersama Tokoh Pemuda Biak Dedi Ronsumbre.

Isi pernyataan sikap masyarakat Biak numfor yang di bacakan oleh Tokoh perempuan Biak, Ani Faidiban yaitu agar Bupati Biak numfor segera menyampaikan aspirasi kepada Gubernur dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, masyarakat biak secara tegas meminta kepada Gubernur untuk membentuk pansus dan mengumpulkan semua kepala daerah untuk menyamakan aspirasi untuk disampaikan kepada Presiden secara tegas.

” Forum masyarakat Papua dan Dewan Adat Kabupaten Biak numfor memohon kepada Gubernur provinsi Papua agar menyiapkan anggaran untuk mengembalikan anak-anak mahasiswa serta saudara-saudara kami yang berada di Pulau Jawa, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan Maluku dan meminta agar pemerintah Indonesia segera mengembalikan masyarakat pendatang yang berdomisili di seluruh Provinsi Papua, masyarakat dengan tegas menolak permintaan maaf Presiden Joko Widodo dan Pemerintah Indonesia diharapkan segera mengembalikan kedaulatan hak berbangsa dan bernegara bangsa papua,” Demikian Ani Faidiban membacakan pernyataan sikap di hadapan Media.(red/rin)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.