Lensapapua – Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Waduk Cirata, yang terletak di Jawa Barat, merupakan salah satu PLTA terbesar di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. PLTA ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 1.008 megawatt (MW), berperan besar dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional. Selain sebagai penyokong energi, Waduk Cirata juga menjadi ikon penting bagi Indonesia dalam peralihan menuju energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Sementara, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung adalah PLTS terbesar di Asia Tenggara. PLTS terapung ini adalah kerja sama antara PT PLN (Persero) dan perusahaan energi asal Uni Emirat Arab, Masdar. Dengan kapasitas terpasang mencapai 145 MW, PLTS terapung ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas energi terbarukan Indonesia secara signifikan, tanpa mengganggu fungsi utama PLTA Cirata.
Menurut Cecep Sofhan Munawar, Manager Pemeliharaan UP Cirata PT PLN Nusantara Power, bahwa PLTA Cirata memiliki kapasitas total 1008 MW (8 x 126 MW) yang menyumbang 2,3% energi sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali).
“Pembangkit ini dilengkapi peralatan dari Alstom (Prancis), Elin-Union, dan Voestapline (Austria), dengan kemampuan sinkron ke jaringan 500 kV hanya 6 menit dan response rate 120 MW per menit, ” Jelasnya.
Terletak di Desa Cadassari, Kecamatan Tegalawaru, Purwakarta, PLTA Cirata menggunakan bendungan tipe Concrete Face Rockfill Dam (tinggi 125 meter, panjang 453 meter) yang mencakup 3 kabupaten. Waduknya luas 6.200 hektare dengan isi total 2.165 juta m³, mengambil air dari enam anak sungai. Unitnya beroperasi bertahap sejak 1988, menghasilkan rata-rata 1.428 GWh/tahun (setara 428 ribu ton minyak).
“UP Cirata juga memiliki PLTS 1,040 kWp untuk kebutuhan internal yang mengurangi emisi CO₂ 1.388 ton/tahun, ” Tambahnya
Dengan 138 karyawan, PLTA Cirata telah mendapatkan sertifikasi ISO 45001-2018, SMK3, penghargaan Soebroto Award, dan rating Hijau PROPER. Secara keseluruhan, LNU Sentra Power mengelola 18.333 MW pada 2025 dan berencana naik ke 20.078 MW di 2026, dengan fokus akselerasi EBT untuk net zero emisi.
Sementara, PLTS Terapung Cirata merupakan pembangkit tenaga surya terapung hasil joint venture antara Pemerintah Indonesia dan Uni Emirat melalui PT PMSE (induknya PT PLN Persero dan perusahaan dari Uni Emirat), menjadi salah satu pencapaian yang membanggakan Indonesia.
Kirjono Mudiarto, Plan Manager PLTS Terapung Cirata menjelaskan PLTS Terapung yang terletak di wilayah PLTA Cirata ini terintegrasi ke sistem kelistrikan Jawa Madura Bali melalui subsistem 150 kV, dengan koordinasi ke pusat kontrol regional di Mohamad Toha (Bandung) dan pusat kontrol utama di Gandul.
“Meskipun menjadi pembangkit terbesar, penetrasinya masih kecil (0,1% kontribusi energi di Jawa Madura Bali), sehingga dampak ke jaringan saat pemeliharaan atau pemadaman tetap aman,”ungkapnya dalam kunjungan teknis dan loka karya Media dari Wilayah Papua di lokasi PLTS, Kamis (20/11/2025).
Disisi lain, Imam Alhakim, Assistant Manager Komunikasi dan Manajemen Stakeholder PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat menyampaikan bahwa kunjungan teknis dan loka karya Media dari Wilayah Papua di lokasi PLTA dan PLTS Cirata tersebut tujuannya untuk memberikan pemahaman kepada wartawan dari berbagai kota di Papua (Jayapura, Biak Numfor, Sorong, Timika, Nabire, dan Merauke) tentang transisi energi ke EBT.
Menurutnya, Papua memiliki potensi untuk mengembangkan PLTS terapung di masa depan, sesuai dengan karakteristik kontur alamnya. Saat ini, dari 370 pembangkit di Papua, 190 di antaranya merupakan EBT (termasuk PLTA, PLTM, dan PLTMH), dengan rencana pengembangan 59 pembangkit EBT lagi sesuai RUPTL 2025-2034.







