Lensapapua, Pembangunan jalan cor lingkungan di kawasan Nusantara Dua, yang baru selesai dikerjakan tahun 2024 lalu, kini jadi bahan perbincangan hangat warga. Bagaimana tidak, jalan yang seharusnya bisa dipakai puluhan tahun justru sudah retak, berlubang, dan aus hanya dalam hitungan bulan memasuki 2025.
Secara teknis, jalan beton idealnya bertahan minimal 10–20 tahun, bahkan bisa mencapai 50 tahun jika menggunakan mutu sesuai standar (K225/K250 ke atas) dengan proses pengerjaan yang benar. Fakta bahwa proyek ini cepat rusak, jelas memunculkan pertanyaan besar: ada apa dengan kualitas pekerjaan?
Sejumlah warga menuding proyek milik konsultan sekaligus kontraktor berinisial A ini dikerjakan asal-asalan. Ironisnya, lokasi jalan yang rusak berada tepat di depan rumahnya. “Baru selesai sudah retak, berlubang, dan rapuh. Ini uang rakyat lho, kok bisa jadi begini?” ujar seorang tokoh masyarakat.
Parahnya lagi, sejak awal pengerjaan, tidak pernah terlihat papan proyek. Masyarakat pun buta informasi: siapa kontraktor resminya, berapa nilai proyek, dan sumber dananya dari mana. “Tak ada plang proyeknya, itu dananya darimana?” sindir seorang warga.
Hasil pantauan lapangan menunjukkan banyak indikasi teknis yang diduga dilanggar, antara lain:
Ketebalan beton tidak seragam dan tampak terlalu tipis di beberapa titik.

Campuran material (mix design) diduga oplosan, semen sedikit, pasir dan kerikil lebih dominan.
Permukaan kasar, agregat nongol. Tanda finishing setengah hati atau mutu rendah.
Genangan kecil di permukaan. Menunjukkan drainase buruk, bikin beton cepat keropos.
Tidak ada expansion joint. Beton butuh celah untuk “gerak”, tanpa itu gampang pecah atau ngelupas.
Curing pasca pengecoran diduga diabaikan. Padahal wajib minimal 7 hari dengan kelembaban terjaga.
Dengan kondisi ini, wajar bila umur jalan yang seharusnya 20 tahun ke atas, malah langsung “pensiun dini” dalam setahun. Kalau proyek benar-benar sesuai standar, paling banter hanya akan muncul retak rambut tipis dalam 2–3 tahun pertama, bukan rusak parah seperti sekarang.
Kesimpulannya, ada dua kemungkinan: material dikorupsi (mutu K225/K250 diganti campuran oplosan), atau pengerjaan dikebut tanpa memperhatikan standar teknis. Apapun itu, masyarakat jelas dirugikan.
Karena itu, warga mendesak pemerintah segera mengevaluasi seluruh konsultan dan kontraktor yang terlibat, sekaligus meminta aparat penegak hukum menelusuri kemungkinan adanya penyimpangan anggaran. “Kalau dibiarkan, proyek infrastruktur kita hanya jadi ladang bancakan, sementara rakyat cuma dapat jalan retak-retak,” tegas salah seorang warga. red







