Setelah Menanti Sekian Lama, Akhirnya Sebanyak 654 ASN Terima SK Dari Bupati Sorong

Sekretaris Dinas Komi staper (Juen Iskak) saat berpose ditengah tengah para staf nya yg akan menerima SK.
Sekretaris Dinas Kominstaper (Juen Iskak) saat berpose ditengah tengah para staf nya yg akan menerima SK.

Lensapapua –   Setelah menanti sekian lama dan dengan perjuangan yang sangat berat, akhirnya sebanyak 654 aparatur sipil negara (ASN) baru di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sorong resmi menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan dan mengucapkan sumpah janji. di Aimas Convention Center, Selasa (10/02/2026)

 

Namun momen ini jauh dari sekadar seremoni administratif. Ia adalah kontrak moral dan sosial antara negara dan rakyat yang kelak akan menagih pertanggungjawaban nyata.

 

Sebanyak 654 penerima SK tersebut terdiri atas 486 CPNS, 55 PPPK, 9 orang optimalisasi formasi 2021, 21 orang optimalisasi formasi 2024, serta 83 tenaga paruh waktu. Angka ini menjadi cerminan komitmen panjang Pemerintah Kabupaten Sorong dalam menuntaskan proses administrasi yang tidak sederhana, melalui sinergi intensif dengan Kantor Regional XIV BKN serta DPRK Kabupaten Sorong.

 

Namun di balik angka-angka itu, tersimpan konsekuensi fiskal dan tanggung jawab etik yang tidak ringan.Kepala Kantor Regional XIV BKN, Basuki Ari Wicaksono, S.H., M.M., dalam sambutannya menyampaikan pesan yang lugas sekaligus menohok. Ia mengingatkan bahwa biaya yang dikeluarkan negara hingga tahap pengangkatan ASN sangat besar, sehingga integritas bukanlah pilihan, melainkan harga mati.

“Setelah Anda mengenakan seragam Korpri, ada batasan yang harus dipatuhi. Ada norma hukum dan norma administrasi yang mengikat. Anda tidak lagi bebas bertindak serampangan,” tegas Basuki.

Ia juga menyoroti tantangan ASN di era digital, khususnya dalam penggunaan media sosial.

“Jangan lebih cepat tangan daripada otak yang berpikir. ASN harus mampu memfilter informasi. Bijaklah di dunia maya,jangan sampai jempol merusak marwah institusi sebelum Anda sempat memberikan kontribusi nyata,” ujarnya.

 

Pesan ini menjadi pengingat bahwa ASN adalah wajah negara. Setiap unggahan, komentar, dan sikap di ruang publik merepresentasikan institusi pemerintah, bukan sekadar ekspresi pribadi.

 

Nada reflektif semakin menguat saat Bupati Sorong, Dr. Johny Kamuru, S.H., M.Si., menyampaikan sambutannya. Ia secara terbuka mengungkapkan beratnya beban fiskal daerah akibat pengangkatan ratusan ASN baru, terlebih di tengah kebijakan efisiensi anggaran.

 

“Banyak masyarakat di kampung-kampung harus merelakan pembangunan infrastruktur ditunda demi pengalokasian gaji saudara-saudara sekalian. Kita ini kelompok kecil, sementara masyarakat yang membutuhkan pelayanan sangat banyak,” ujar Johny Kamuru dengan nada serius.

Bupati bahkan mengaku mengalami tekanan psikologis dalam menjaga keseimbangan anggaran daerah, namun tetap mengedepankan hak para pegawai. Sebagai imbal balik, ia menuntut ketulusan, etos kerja, dan disiplin dari setiap ASN.

 

“Jangan menunda pekerjaan. Hal yang tidak sulit akan menjadi sulit jika dikerjakan dengan malas. Kita harus berkomitmen menjadi berkat bagi banyak orang, bukan menjadi beban bagi daerah,” tegasnya.

 

Pelantikan ini menjadi pengingat keras bahwa menjadi ASN bukanlah sekadar soal jaminan hari tua, melainkan tentang pengabdian yang dibiayai oleh keringat rakyat. Publik hari ini tidak lagi membutuhkan aparatur yang hanya hadir untuk mengisi daftar absensi, tetapi pelayan publik yang hadir dengan solusi.

 

Dengan pengangkatan ini, diharapkan stigma ASN yang “santai”, “sulit ditemui”, atau “lamban melayani” benar-benar ditinggalkan. Sumpah jabatan harus diterjemahkan ke dalam tindakan konkret: tepat waktu, responsif, ramah, dan bersedia menjangkau masyarakat hingga pelosok.

 

Satu hal yang tak boleh dilupakan seragam Korpri adalah amanah, dan setiap rupiah gaji yang diterima adalah tanggung jawab moral yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya oleh negara, tetapi oleh nurani dan rakyat yang dilayani.[RA/red]

Exit mobile version