Puncak kegiatan berlangsung pada Minggu (17/5/2026) di Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat, dengan dihadiri langsung Bupati Raja Ampat, Orideko Burdam, Wakil Bupati Mansyur Shadan, Kepala Badan Kepegawaian, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kehadiran para pejabat daerah ini menjadi bentuk perhatian serius pemerintah terhadap pengembangan kualitas sumber daya manusia di wilayah yang dikenal sebagai destinasi wisata dunia ini.
Dijalankan di 17 sekolah yang mencakup 19 kelas, pelatihan ini melibatkan peserta dari SMA Negeri 1 Raja Ampat dan SMK Bukit Zaitun, serta didampingi oleh 3 guru Bahasa Inggris. Hasilnya, sebanyak 38 peserta dinyatakan lulus dan ditetapkan sebagai mentor lokal. Para mentor ini bahkan sudah mulai melakukan kegiatan pengajaran sejak sehari sebelum acara penutupan, dan pada hari peninjauan, mereka mempresentasikan capaian pembelajaran secara langsung di hadapan jajaran pemerintah daerah.
Bupati Raja Ampat, Orideko Burdam, menyampaikan apresiasi tinggi atas keberhasilan program tersebut. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh pengembangan dan perluasan cakupan kegiatan ini. Menurutnya, kemampuan berbahasa asing merupakan modal utama bagi generasi muda maupun aparatur sipil negara di Raja Ampat.
“Saya melihat ini adalah langkah nyata untuk mempersiapkan anak-anak Raja Ampat menghadapi dunia. Kemampuan bahasa adalah kunci. Pemerintah daerah akan mendukung penuh agar program ini berjalan di seluruh wilayah Raja Ampat, mulai dari sekolah-sekolah, kantor pelayanan publik khususnya bagi para kepala Organisasi Perangkat Daerah, hingga ke kampung-kampung,” ujarnya.
Lebih jauh, pemerintah daerah berencana segera mewujudkan pendirian Language Center atau Pusat Bahasa. Fasilitas ini nantinya tidak hanya akan berfokus pada pembelajaran Bahasa Inggris, tetapi juga menyediakan materi bahasa asing lainnya dengan metode pembelajaran yang sama efektifnya.
Langkah strategis ini diambil mengingat posisi Raja Ampat sebagai kawasan wisata internasional yang setiap tahunnya dikunjungi wisatawan dan investor dari berbagai negara. Oleh sebab itu, pembekalan kemampuan bahasa dan kepercayaan diri untuk berinteraksi dengan dunia luar menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat setempat, khususnya generasi muda.
Penggagas program sekaligus Pendiri Yayasan Pulau Doom, Sorong, Engelin Yolanda Kardinal, mengaku sangat bersyukur atas terealisasinya kegiatan ini. Ia menilai apa yang telah dilakukan sebagai sebuah mimpi kecil yang ternyata membawa dampak besar bagi dunia pendidikan dan masa depan anak-anak Papua Barat Daya, khususnya di Raja Ampat.
Engelin juga menyampaikan terima kasih kepada Filda Malari, pendiri Indonesia Brain Camp, yang telah mengembangkan metode pembelajaran revolusioner yang digunakan dalam program ini. Metode tersebut diklaim mampu mengoptimalkan kerja otak kanan dan kiri, sehingga peserta pelatihan mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris hanya dalam kurun waktu satu minggu.
“Pak Filda dan saya memiliki mimpi yang sama, yaitu membangun sesuatu yang sederhana namun berdampak besar bagi banyak orang. Kami berharap langkah awal ini bisa menjadi gerakan besar untuk mencetak generasi Papua yang lebih siap, percaya diri, dan mampu bersaing serta berinteraksi secara mendunia,” ungkap Engelin.
Diharapkan, keberhasilan pelatihan ini menjadi titik balik dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Raja Ampat, sehingga mampu mendukung potensi pariwisata daerah dan membawa nama baik Papua Barat Daya di kancah internasional.
