Lensapapua, Di tengah derasnya arus pembangunan industri migas di Teluk Bintuni, terselip kisah inspiratif seorang pemuda Papua yang memilih untuk terus melangkah maju meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. Ia adalah Asriyanto Nabi, pemuda asal Suku Kamundan yang kini bekerja sebagai General Helper Scaffolding di PT Petrosea pada proyek Tangguh Onshore Compression (UCC) di Teluk Bintuni, Papua Barat.
Perjalanan Asriyanto menuju dunia industri tidak diraih dalam semalam. Pada April 2023, ia mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) selama tiga bulan. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia bersama rekan-rekannya berjuang mencari peluang kerja dengan berbekal keterampilan dan pengalaman yang diperoleh selama masa pendidikan.
“Saya sudah menanamkan dalam diri bahwa saya tidak boleh menyerah dengan keadaan. Kalau kita ingin mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha untuk meraihnya,” ujar Asriyanto.
Bagi pemuda yang juga menyandang gelar sarjana pendidikan itu, keberhasilan bukan semata soal keberuntungan. Ia meyakini bahwa kerja keras, disiplin, serta sikap pantang menyerah menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Prinsip tersebut terus ia pegang hingga kini. Menurutnya, terlalu sering menyalahkan keadaan hanya akan membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang.
“Hidup adalah tanggung jawab kita sendiri. Yang terpenting adalah terus berusaha, berpikir positif, dan selalu melibatkan Allah SWT dalam setiap langkah yang diambil,” tuturnya.
Asriyanto mengaku banyak memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti pelatihan di P2TIM. Selain keterampilan teknis yang berkaitan dengan dunia industri, ia juga mendapatkan pembinaan karakter yang menurutnya sangat membantu dalam membangun mental kerja profesional.
“Di sana kami diajarkan disiplin, komunikasi yang baik, bekerja dengan aman, dan bagaimana bersikap di lingkungan kerja. Para instruktur dan staf juga sangat sabar membimbing kami, baik di kelas maupun di asrama,” kenangnya.
Ia menilai perhatian yang diberikan selama masa pelatihan tidak hanya berfokus pada aspek akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga mencakup kebutuhan peserta sehari-hari, mulai dari fasilitas belajar, tempat tinggal, hingga kesempatan menjalankan ibadah dengan baik.
Kini, setelah berhasil menembus dunia kerja industri migas, Asriyanto berharap semakin banyak generasi muda Papua yang memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas diri.
Menurutnya, memiliki keterampilan menjadi salah satu modal penting untuk bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Saya berharap adik-adik dan teman-teman yang masih bingung menentukan arah masa depan bisa memanfaatkan pelatihan seperti ini. Dengan memiliki keterampilan, peluang untuk mendapatkan pekerjaan akan semakin terbuka,” katanya.
Di balik kesibukannya bekerja di kawasan industri migas, Asriyanto tetap aktif menjalankan kegiatan sosial dan keagamaan. Setiap hari Jumat, ia dipercaya menjadi imam sekaligus khatib salat Jumat di lingkungan tempat tinggalnya.
Perjalanan Asriyanto Nabi menjadi bukti bahwa semangat belajar, kerja keras, dan ketekunan dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Dari tanah Kamundan hingga kawasan industri migas Teluk Bintuni, ia menunjukkan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari tempat yang sederhana, selama ada kemauan untuk terus melangkah dan tidak menyerah pada keadaan.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, kisah Asriyanto menjadi pengingat bahwa masa depan tidak ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan, melainkan oleh keberanian untuk terus belajar, berjuang, dan mengambil setiap peluang yang datang. red







