Dinamika Sosial Dipengaruhi Beberapa Faktor Global

IMG_4660

Lensapapua – Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong Dr. H. Hermanto Suaeb, MM, membeberkan berbagai hal terkait dengan dinamika sosial yang ada di daerah, dengan adanya modernisasi  dipengaruhi oleh beberapa faktor global.

Hal ini tak lain sebagai akibat dari derasnya transformasi informasi dan akses berita sudah tida ada batasnya lagi, ujarnya pada acara Forum Group Discussion, yang berlangsung di aula Mapolres Aimas, Kamis (28/4).

Bahkan ini semua diakses oleh orang banyak di dunia ini. Hal ini mengakibatkan berbagai persepsi muncul, seperti persepsi emosional, persepsi rasionalisasi yang diakhiri dengan persepsi-persepsi peserta individu, arogansi-arogansi persepsi yang muncul ini sebagai akibat berbagai informasi kita tidak mampu melalui suatu kajian analisis. Sehingga kita mempraktekan teori-teori ini dalam waktu sekejap, aku Hermanto.

Terkadang kita melibatkan orang lain yang tidak mengerti apa persoalan yang harus diselesaikan. Masyarakat sekarang ini tidak bisa dibatasi, karena dilindungi oleh kedaulatan-kedaulatan individu, dimana ada kedaulatan hak-hak politis, kedaulatan hak sosial.

Jika berasumsi melalui pendekatan-pendekatan yuridis masyarakat sangat terlindung hak azasinya, yakni hak azasi manusia. Hak azasi ini juga tidak dimaknai konteks harakat daripada kelahiran seorang manusia, sebutnya.

Oleh karena itu, kalau kita bicara masalah konflik horizontal  dan ada juga konflik vertikal yang anginnya datang dari pusat masuk melalui angin deras ke wilayah-wilayah, yang memang tidak diproteksi. Olehnya itu proteksi dari semua persoalan itu penting, dan kita tidak mau menyelesaikan berbagai persoalan yang sudah terjadi, karena itu mahal, kata Hermanto.

Mahal karena adanya resiko, pengorbanan yang tidak bisa diukur. Untuk itu sebaiknya kita sebagai warga Negara harus memiliki kebanggaan dulu.

Lanjutnya, kita harus  bangga sebagai warga kota dan Kabupaten Sorong atau warga Papua Barat. Sebab setiap individu tidak memiliki kebanggaan maka jelas akan memiliki persepsi-persepsi berbeda.

Semua kebanggaan  bahkan  terkadang pula tidak secara kontinyu dilakukan secara baik, sebagai akibat kurang komunikasi dua arah atau saling koordinasi secara interaktif. Karena semua beralasan sibuk demi mencari kehidupan yang kompetitif yang dari sederhana digeser, dengan adanya sederhana itu menjadi konsumtif, katanya. (rim/RED)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.