Pembangunan Mental Menjadi Tolak Ukur Pembangunan Bangsa

Ketua MUI Kabupaten Sorog h. Aderson Miyage

Lensapapua– Di dalam perjalanan Indonesia sebelum zaman merdeka sampai merdeka yang hingga saat ini keberadaan pondok pesantren merupakan tolak ukur pembangunan bangsa ini, ujar Ketua MUI Kabupaten Sorong Ustadz H. Anderson Miyage, S,Pd.I, dalam tausiahnya pada pelaksanaan pembangunan Pondok pesantren Darul Ilmi Kampung Makotiamsya, Distrik Mayamuk, Minggu (26/10).

Kalau kita lihat di Jawa sana, para pejuang KH Akhmad Dahlan merupakan tokoh pendidikan latar belakang Muhammadiyah, kemudian KH Hasyim Ashari  tokoh pesantren juga latar belakang dari NU, dan tokoh-tokoh nasional yang lain dimana mereka berpikir bangsa ini ke depan menjadi bangsa yang baik dan bangsa yang besar.

Ketika bangsa ini baik dan besar tentu kembali dilihat latar belakangnya. Sebagaimana misi Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong, yakni bagaimana masyarakat bisa bertaqwa kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, maka  pemerintah dan masyarakat bagaimana berusaha sekuat mungkin kalau pembangunan secara fisik, yang jelasnya siapun bisa membangun.

“Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah pembangunan mental spiritual itu tidak sembarangan. Sekolah sekarang bagi anak-anak terutama agama itu waktunya hanya 45 menit kali dua itupun di SMP. Kalau di MTs dibagi menjadi 5 pelajaran, fiqih, akidah, akhlaq, daih bahasa Arab, Al-Qur’a dan haditsh,” urai Miyage.

“Kita bisa melihat potret bangsa ini justru semakin pintar dimana tidak sedikit orang pintar di republik ini yang masuk bui semakin banyak,tetapi orang yang benar itu kurang. Makanya ada istilah dari Pak Jokowi punya istilah revolusi mental, justru  revolusi yang disampaikannya itu   sebenarnya terlambat,” bebernya.

Islam telah melakukan revolusi mental dengan ada empat  hal, namun yang bisa lakukan itu hanya Pesantren. Kalau sekolah umum tak bisa, justru kehadiran pondok pesantren atau lembaga-lembaga Islam itu adalah untuk menjawab tantangan Indonesia ke depan.

“Jadi, keberadaan pondok ini bukan hanya berlaku untuk Islam, tapi berlaku untuk Indonesia. Kalau di Kabupaten Sorong semakin banyak orang bertaqwa kepada Allah, dimana yang Islam bertaqwa dan bagi Kristen juga taat akan agama dianutnya maka para pimpinan tak perlu turun ke lapangan,”katanya dengan nada guyon disambut tawa dari hadirin.

Bangsa kita ini kalau secara pengetahuan dia maju, tetapi secara agama tidak maju maka akan memiliki dampak begitu besar. Untuk itu dalam pembangunan bangsa ini umat Islam ikut ambil bagian,” bahkan dalam skop yang kecil saja jika di daerah ini lembaga pendidikan Islam berkembang dengan baik serta lembaga agama yang lainnya juga sama berkembangnya, insya Allah daerah ini akan  lebih baik, maju dan bermartabat,” tambahnya. (rim/Red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.