Menteri Susi Minta Nelayan Tetap Jaga Habitat Dan Ekosistem Laut

IMG_5993

Lensapapua – Menteri kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, meminta nelayan  Raja Ampat agar tetap menjaga habitat laut dan ekosistem laut. Kalau mengambil ikan secukupnya saja, dan harus tetap menjaga keindahan dan kenyamanan potensi perikanannya dari sisi wisata, katanya, di Waisai, Sabtu (9/5).

 Perikanan laut belum dikembangkan, tapi selama tidak mengganggu pilar-pilar dan wisata, katanya.

Lanjut Susi,  ada satu hal yang tidak boleh di lakukan di perairan ini, yakni bisnis ikan hias. Karena ikan hias laut pasti merusak terumbu karang yang menggunakan potas, dan hal seperti  ini tidak boleh dilakukan.

 Kalau itu  dilakukan maka akan habis dan apa yang diharapkan dari raja Ampat.  Jadi pekerjaan atau usaha apa di sini sebagai pengganti usaha bisnis wisata yang harus dikembangkan, jelas Susi.

 “Salah satu program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membantu pengembangan wisata kelautan, perikanannya di daerah ini,  dan lebih penting lagi harus ada satu komitmen, bahwa Kabupaten Raja Ampat  tidak boleh menebang bakau (mangrove),” jelas Susi.

 Artinya, untuk tidak mengurangi wilayah bakau, karena bakau sebagai  greendbelt atau savetybelt. Kalau greendbelt ini habis, maka ikan akan pergi, bahkan laut jadi kotor.

Berikutnya, sampah berupa plastik akan menjadi persoalan besar, maka ia meminta jajarannya untuk memberi sosialisasi plastik menjadi dampak besar yang perlu diperhatikan.

 Contohnya, di Pangandaran, Jawa Barat, jika ada masyarakat yang membawa plastik (kresek) ke lokasi itu langsung didenda Rp 25.000. Hal serupa bisa saja Raja Ampat  mungkin saja bisa terapkan  seperti itu.

 Dengan sampah plastik  berserakan di perairan Raja Ampat, maka keindahan wisatanya akan hilang, tutur Susi.

 Selain itu, diharapkan bisa menertibkan semua alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti postas, bom, kompresor, yang sudah disebutkan dalam Permen Kelautan dan Perikanan.

 “Yang harus diperhatikan, jika ada lobster yang sedang bertelur tidak boleh diambil, karena bayangkan saja hanya satu ekor lobster ketika bertelur akan menghasilkan 3 ton lobster.

 Jadi kita harus tunggu saja sampai lobster itu selesai bertelur baru bisa diambil, dan larangan lainnya adalah kepiting bertelur tidak boleh ditangkap,” imbaunya.

Kita harus bagimana bisa menjaga potensi masa depan, dengan membiasakan menghargai lingkungan  sebagai bagian dari diri kita. Kalau lingkungan rusak maka masa depan mata pencaharian kita juga akan hilang, tambahnya. (rim/Red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.