Putusan Sidang Akhir Perkara Perdata Oleh Penggugat Ahmad Wihel Kepada Tergugat H.Abdul Djalil Bahalle Di PN.Sorong dirasa Tidak Netral

banner 120x600
banner 468x60

Waisai/Raja Ampat – Pada tanggal 2/3-2017 sidang akhir putusan perkara perdata 43 pulau yang digugat oleh Ahmad Wihel kepada tergugat H.Abdul Djalil Bahalle dengan nomor:67/Pdt.G/2016/PN.Son Tertanggal:14 juli 2016, atas Penggugat:Ahmad Wihel.DKK, kepada Tergugat   :H.Abdul Djalil Bahalle DKK, yang di putuskan oleh Majelis Hakim: 1,Timotius Djemey,SH, 2, Dedy L. Sahusilawane,SH, 3,Donald F.Sopacua,SH, serta didampingi Panitera Pengganti:Elisabet D.Aronggear,SH atas kasus 43 pulau tersebut yang telah digugat, kesemuanya berada di Misool Selatan Kabupaten Raja ampat serta dijuluki sebagai pulau Batanne, dirasakan tidak puas dan netral hasil keputusannya. Hal ini sebagaimana di utarakan oleh tergugat H.Abdul Djalil Bahalle yang merasa tidak puas dengan adanya putusan tersebut, saat memberikan keterangan persnya (4/4) kemarin.

banner 325x300

ia mengatakan, bahwa dirinyalah yang seharusnya memenangkan perkara ini dan sepenuhnya mempunyai hak ulayat tersebut. tapi ternyata berbalik arah, dan menanyakan keterkaitan hal apakah yang berada dibalik keputusan tersebut. sedangkan bukti dilapangan pada saat tim PN sorong turun lapangan (turlap) kelokasi untuk membuktikan 43 pulau yang telah digugat oleh para penggugat Ahmad Wihel ternyata cuman 17 pulau yaitu 9 pulau di misool ekoresord, 8 pulau di PT yellu Mutiara dan 17 pulau itu,ternya tidak ada sedikitpun tanaman atau harta benda apapun yang dimiliki oleh para penggugat Ahmat Wihel.

“ Tidak ada harta benda atau apapun disitu. malahan pulau-pulau tersebut mereka cumantau nama pulau tapi tempatnya tidak tahu jangan asal menggugat kalau bukan punya hak ulayat,”sebut Djalil,”

Lanjut Djalil menerangkan sedikit kronologi asal usul marga, yaitu terhadap Marga Wihel adalah pendatang dengan membawa marga katublo yang sebelumnya berasal dari halmahera hingga merantau ke waigeo, dengan memakai marga kecil yakni gurabesi. Hingga berlanjut terus ke salawati tinggal disuatu tempat namanya wogolimlol yang diangkat jabatan di samate oleh jojao sailolof dan diberi tugas sampai ketimur dan utara yaitu kampung waha,limalas,atkari,dan diberikan marga wihel serta kuasa pulau pesisir pantai yang berada di pesisir timur dan utara bukan menduduki wilayah selatan dan wihel bukan orang asli suku matbat melainkan pendatang dan juga bukan ketua adat tinggi di suku matbat. sedangkan pada saat itu di wilayah misool selatan adalah kapitanlaut fafanlap dan raja lilinta sebagian dari selatan, sebagian dari barat,jadi wihel ini pendatang dari luar tanah matbat,dan bukan datang untuk menguasai adat, dan wihel diberi tugas oleh kaum penjajah belanda, untuk menagi pajak ke rakyat,memaksa kehendak rakyat,serta memperbudakkan rakyat.dan marga wihel bukan datang untuk mengatur adat yang berada di tanah matbat batanne yang sekarang disebut misool.

“H.Abdul Djalil Bahalle bersama keluarga besar yang yang terkenal dulunya dengan marga jemput hingga turun ke marga kamafanlol bahalle yang selama ini mendiami ulayat dan tinggal dipulau mustika,serta danau yang hingga sampai saat ini menjadi suatu tempat keramat dari leluhur mereka dan ada sebuah pulau yang terbentang ditengah danau itu,diberikan nama oleh sultan tidore adalah joumangofa.pulau itu dibuat oleh para leluhur kami dengan menaruh batu satu orang satu batu,hingga menjadi pulau guna untuk melindungi dan berlindung dari kaum penjajah,dan pulau itu masih ada,terus kami marga bahalle sudah 14 generasi hingga sampai saat ini mendiami serta memiliki hak ulayat tersebut,”.tuturnya

Oleh sebab itu, Djalil pun mengatakan, terkait hal ini kenapa baru sekarang terjadi keributan antara marga wihel yang menyatakan bahwa merekalah yang mempunyai hak ulayat, serta kenapa tidak dari dulu pulau belum dihuni oleh orang dan belum ada tanaman kelapa,sagu,serta pohon damar dan beberapa pulau yang sudah menjadi opjek wisata dunia dan beberapa pulau yang lain menjadi perusahaan mutiara.

“ selama ini kalian dimana apa mungkin pulau-pulau ini sudah menjadi pulau dollar, sehingga kalian marga wihel bilang kalian yang punya saya rasa kalian hanyalah seorang pendatang,pendalim,yang mau mengambil hak milik orang lain menjadi milik kalian,hingga cara seperti inilah hakim memutuskan kalian marga wihel sebagai pemilik hak ulayat dimanakah keadilan yang sebenarnya,”kata Djalil,”

Seraya menambahkan bahwa dirinyalah, H.Abdul Djalil Bahalle yang selaku kepala kampung yellu misool selatan, dan telah menjabat hampir kuranglebih 30 tahun dari semenjak kab,sorong hingga mekarnya kab,raja ampat,merasa kaget ketika marga wihel menggugat perusahaan Pt.yellu mutiara saya kira ini hal yang lucu dan aneh.perlu publik tahu semenjak masuknya pt.yellu mutiara dari tahun 1994 masih kab,sorong sementara itu bupati joko,abraham atururi,jhon piet wanane,hinga mekar kab,raja ampat marcus wanma,hingga kini Abdul faris umlati,dan sudah disahkan oleh pemerintah daerah namun masih dapat diklaim juga bahwa pemerintah kab,raja ampat batal demi hukum.

“hal ini saya sangat tidak setuju dengan perkataan hakim disini yang menjadi pertanyaan besar apanya yang batal demi hukum sedangkan pemerintah yang mengizinkan, yang memberi izin hingga perusahaan dapat masuk dan layak beroprasi maka itu saya bersama keluarga besar bahalle melaporkan ke pem kab,raja ampat melalui (pelaksana tugas daerah) plt,setda pihaknya langsung mengrahkan kami ke bagian hukum melalui kabak hukum untuk konfirmasi terkait perizinan yang bilamana menurut Ahmad wihel diduga salah,”tambahnya.

Sementara itu, sambil menunggu tindak lanjutnya, pihak keluarga Hi,Abdul Djalil Bahalle masih menunggu panggilan dari PN sorong untuk mengajukan Banding di PN Tinggi Jayapura papua, demi mencari penegakan keadilan atas hal sengketa dan putusan ini. (RED)

banner 325x300