Polda Klaim, Tak Ada Halangan Ungkap TSK Penodaan Seragam di “DOUBLE QYU”.

MANOKWARI, — Penyidik ​​Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Papua Barat diketahui telah menggelar perkara kasus pemakain seragam sekolah, SD, SMP dan SMA oleh 6 wanita atau pemandu karaoke Double Qyu di Manokwari, Kamis (14/9) lalu.

Meski kasus ini telah ditingkatkan ke tahap penyidikan, namun untuk mencari dan menerapkan tersangka dalam kasus yang mencoreng atribut sekolah itu terkesan lambat. Menanggapi perkembangan kasus ini ketika di konfirmasi, Rabu (19/9) Kabid Humas Polda Papua Barat AKBP Hary Supriono, menepis hal tersebut jika pada pengungkapan penetapan tersangka penyidik terkesan lambat atau terdapat halangan dalam mengumpulkan barang bukti (BB) lainnya.

“Enam ledis proses penyidikan berlanjut. Tidak ada hambatan dalam proses penyidikan,”Ujarnya

Selain itu Hary membeberkan, jika para lenyidik ​​akan kembali melakukan pengecekan kembali di TKP guna mencari petunjuk lainnya. Hal ini berdasarkan kesaksian 11 orang yang telah dilakukan introgasi oleh penyidik, termasuk 6 wanita berinisial Rs, Yl, YS, ET, Rm, Vt, GM (general manager), ” Mami ” Double Qyu, Ketua Asosiasi Pengusaha Karaoke, Iksan.

Salah satu tempat karoke yang para ladiesnya menggunakan atribut seragam sekolah melayani tamu.

” Penyidik segera merakit dan menggali lagi alat bukti tambahan, guna menggali ide siapa yang memakaian seragam di tempat karaoke, berdasarkan keterangan sebelas saksi,” tuturnya.

Adapun Alat bukti yang telah disita adalah beberapa lembar pakaian seragam SD, SMP dan SMA yang digunakan keenam ladies saat sok imut melayani tamu diruang karoke Double Qyu. Dan alat bukti yang lain belum dapat dibeberkan lebih lanjut.

Sementara kepada para tersangka masih dikenai Pasal 2 UU Nomor 21 Tahun 2007 berisikan 2 ayat, ayat (1) setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (maksimal dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). Ayat (2), Jika perbuatan pembaptisan pada ayat (1) orang yang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama di maksudnya pada ayat (1).

Diketahui, keenam wanita Double Qyu Karaoke beralamat di Jalan Trikora, Biryosi ini diamankan personel Polda Papua Barat, Sabtu (9/9) dini hari sekitar pukul 02.00 WIT. Mereka menemani tamu menggunakan seragam sekolah dengan rok di atas lutut, sambil memandu lagu dan menegak miras. (ian)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.