Petani Malawili, Aimas  Keluhkan Obat Pembasmi Hama Padi

Salah satu areal persawahan di Aimas Kabupaten Sorong. Dok/red
Salah satu areal persawahan di Aimas Kabupaten Sorong. Dok/red

Lensapapua – Ketua Kelompok Tani Mekar Jaya di RT 03/RW 02 Kelurahan Malawili Aimas, Parlan menuturkan,   jumlah anggota tani yang dipimpinnya  sebanyak 28 orang, dengan lahan yang dimiliki seluas 22 hektar, di mana yang menjadi keluhan kami terutama terkait dengan masalah obat pembasmi hama padi, ujarnya, Senin (15/8).

“Terkadang yang menjadi  hambatan pada tanaman padi biasanya terjadi hama potong leher, hama sundep (ulat pemakan pohon padi), yang sulit mendapatkan obatnya. Bahkan kami juga jika ada hama yang menyerang  tanaman padi sulit mendapatkan informasi, karena sangat jarang PPL (petugas penyuluh lapangan) pertanian datang  bertemu langsung dengan  kelompok tani yang ada,” ungkap Parlan.

Parlan  mengaku hasil panen pada lahan yang dikelolahnya satu hektare itu, jika tidak diserang hama biasanya bisa mencapai 4 ton, dengan padi jenis IR 64 kalau dalam bentuk gabah kering saat dijual bisa mencapai Rp 20 juta. Umur padi rata-rata berkisar antara 86 hari hingga 100 hari sudah bisa dipanen.

Kalau bernasib baik kami juga bisa memperoleh keuntungan untuk per hekatrenya dalam kisaran Rp 15 juta. Karena Rp 5 juta merupakan modal awal untuk operasional hingga penyiapan benih padinya.

Kesan yang sama disampaikan Paimi, dimana saat ini lahan sawah yang diolahnya satu hektare  diserang hama putih pada batang daun padinya. Dengan kejadian itu, sambung Paimi jelasnya kami mau mengadu kemana.

Selama ini yang saya amati kebanyakan mereka (PPL) datang berkunjung ke sawah apabila hasilnya   bagus untuk diambil foto dokumentasinya saja. Tapi kalau ada persoalan seperti ini akan sulit kita temui, ujar Paimi.

Lanjutnya, untuk awal menggarap sawahnya sampai tiba musim tanam biaya yang dibutuhkan dalam kisaran Rp 3 jutaan lebih, tapi kalau kondisi seperti ini bagaimana uang kami bisa kembalikan modalnya, ucapnya dengan nada kesal.

Untuk itu, ia meminta pihak instansi teknis terkait untuk melihat langsung kondisi sawah kami yang berada di Jalan Jambu RT 03/RW 02 Malawili ini, sehingga semua permasalahan yang kami hadapi bisa segera diatasi.

Sementara  itu, Gianto bersama  tiga rekan tani saat ditemui awak media mengatakan, sawah yang digarapnya seluas satu hektare  dengan bibit padi jenis Deno, dimana hasil panenannya untuk konsumsi saja.

Jika ada kelebihan baru kita giling dalam bentuk beras seharga Rp 10.000 per kilogram. Dan itu pun pembelinya kebanyakan dari PNS saja, tambahnya. RIM/red

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Petani Malawili, Aimas  Keluhkan Obat Pembasmi Hama Padi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.