Membantu Sesama dengan JKN-KIS, Pengalaman Herry Melawan Stroke Iskemik

Lensapapua, Biak – Stroke iskemik merupakan salah satu jenis stroke yang ditandai dengan kehilangan suplai darah dari sirkulasi secara tiba-tiba pada suatu area di otak atau penyumbatan. Akibatnya sesorang kehilangan fungsi pada area otak tersebut.

Kondisi ini dialami salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional- Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) Lukas Herry (56), warga kelurahan Burokup. Ditemui tim Jamkesnews, Minggu (01/11), sang istri tercinta, Nolita R.L. Ratu yang biasa dipanggil Nolita, menceritakan bagaimana perjalanan Herry melawan stroke iskemik.

“Tepatnya 4 April 2016, suami saya mengalami kejang dan memang satu minggu sebelumnya sudah tidak enak badan. Pada saat itu disarankan oleh dokter untuk rawat inap di ruang Intensive Care Unit (ICU) selama dua hari,” ujarnya.

Hasil CT scan menunjukkan ada pendarahan di kepala sebelah kiri bagian bawah Herry kurang lebih 4 cm dan mengakibatkan stroke ringan dan kejang. Seminggu kemudian ia pun dirujuk ke Makassar untuk Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan hasil menunjukkan akibat pendarahan tadi memicu kerusakan saraf.

Sepanjang tahun 2017-2018, Herry semakin sering kejang (bukan epilepsy) dan juga tremor. Ini bukan lagi disebabkan oleh pendarahan melainkan penyumbatan di daerah yang sama dengan pendarahan.

“Waktu suami saya berobat pada tahun 2016 -2018 memang belum mengikuti Program JKN-KIS. Suami saya baru menggunakannya ketika masuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Biak Numfor kembali bulan Juli 2020 dan dirawat selama empat hari dengan kasus yang sama,” urai Nolita.

Lebih lanjut, Nolita kembali bercerita pada tim Jamkesnews, bagaimana perkembangan sang suami saat ini dan pelayanan yang diterima sang suami sebagai peserta JKN-KIS segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) kelas I.

“Selama proses pengobatan suami saya, Puji Tuhan lancar dan pelayanan kesehatan yang diberikan sangat memuaskan karena menggunakan kartu JKN-KIS. Saya juga merasa bersyukur, karena bisa menekan biaya keluar dengan menggunakan kartu JKN-KIS ini jika dibandingkan dengan tanpa kartu JKN-KIS. Saat ini kondisi suami saya sudah semakin membaik, suami saya tinggal berobat jalan (kontrol dokter) dan pengambilan resep di RSUD Biak saja,” ujar Nolita.

Sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), Nolita mengungkapkan Program JKN-KIS sangat penting untuk diikuti warga Indonesia karena bisa meringkankan beban biaya. Nolita juga berpesan melalui sistem gotong royong seperti ini, kita bisa sekalian berbuat kebaikan bagi sesama umat manusia sehingga tidak perlu merasa rugi jika harus membayar meski tidak sakit.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.