PT. Pupuk Kaltim Pertimbangkan Kawasan KEK Sorong

Sekretaris PT. Pupuk Kaltim, Teguh Ismartono saat menyampaikan bantuan perlengkapan Prokes Covid-19 pada wakil bupati Sorong.

Lensapapua-  Mengingat Kabupaten Sorong memiliki gas yang cukup besar, kedua dari Kabupaten Teluk Bintuni,Papua Barat,  maka nanti akan menjadi pertimbangan pihak perusahaan PT. Pupuk Kaltim.

 

Demikian disampaikan  Sekretaris PT Pupuk Kaltim Teguh Ismartono, kepada sejumlah insan media, usai mengadakan pertemuan dengan Wakil Bupati  Suka Harjono beserta jajaran OPD teknis terkait, berlangsung di ruang pola Kantor Bupati Sorong, Rabu (18/3-2021) di Aimas.

Dengan luasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, yang dijelaskan tadi ada  sekitar 523,7 hektare, dimana  yang sudah digunakan pihak perusahaan sekitar 25-30% dari luasan tersebut, sambung Teguh  akan menjadi pertimbangan perusahaan Pupuk Kaltim nanti.

 

Kawasan industri Kaltim  di dalamnya ada usaha-usaha lain, seperti suplay logistik dan lain sebagainya.  Bahkan, di perusahaan Pupuk Kaltim ada anak perusahaan power plan, sehingga ke depan kalau di kawasan ini (KEK) Sorong ada nanti kita pertimbangkan lagi.

 

Karena kedatangan kami ke Kabupaten Sorong ini baru pertemuan pertama tentu akan memetakan kira-kira potensi apa yang bisa kita kembangkan ke depan di daerah ini.  Tentu hal ini kita diskusikan lebih lanjut, jelas Teguh.

 

Kita ada penugasan khusus dari  pemerintah melalui  Kementerian Pertanian (Kementan) bagaimana bisa mengikuti rayonisasi dimana alokasi pupuk subsidi   berapa volumenya.

 

Perusahaan berkewajiban memenuhi itu sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Kementan. Memang kalau kita lihat dari sisi produksi yang saya sampaikan tadi PT Pupuk Kaltim produksi pupuk 3,4 juta ton.

Fhoto bersama dgn rombongan manajemen PT. Pupuk Kaltim

Sementara untuk alokasi pupuk bersubsidi angaran dari pemerintah melalui Kementan ada keterbatasan, sehingga jumlah  volume pupuk yang disubsidi sama pemerintah  sampai saat ini pun masih belum memenuhi kebutuhan.

 

“Bukan saja di Kabupaten Sorong saja. Tapi di beberapa daerah juga mengalami  hal yang sama pula,” aku Teguh.

 

Solusinya, perusahaan berusaha  mengurangi pupuk bersubsidi terhadap pupuk nonsubsidi. Memang kalau disubsidi harganya murah, dan  begitu pula kalau nonsubsidi harganya akan di atas dari harga itu, katanya.

 

Jelas kalau ada subsidi tentu masih ada penambahan biaya panen, pemupukan dan ada juga biaya bunga pasti juga ada kenaikan.

 

Contohnya, pakai pupuk subsidi untuk satu hektare sawah hasilnya sekitar 7 ton padi.  Tapi dengan pupuk nonsubsidi dengan program  Agrosolution  pendampingan secara intensif kepada petani, maka dalam satu hektare bisa mencapai 10,7 ton.

 

Ini tentunya pendapatan petani akan naik karena dipengaruhi naiknya volume. Jadi, kenaikan biaya tadi tidak sebanding dengan  keuntungan yang didapat tambahnya. (rim/red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.