Cegah Gizi Buruk Paradigma Berpikir Warga Harus Dirubah

Lensapapua  – Dalam pewenangan untuk mencegah kurang gizi atau gizi buruk pada anak, maka paradigma berpikirnya harus dirubah. Terutama dalam pemberian makan sehat yang mengandung gizi seimbang, ujar Kepala Puskesmas Malawei Marjono, S.Sos, SKM, MBA, Kamis (26/5).

“Menurutnya, makanan yang mengandung gizi  tidak harus mahal, tapi memiliki kalori, vitamin, protein yang cukup bagi  asupan kebutuhan tubuh,”jelas Marjono.

Jadi,  untuk menghindari anak dari gizi kurang dan gizi buruk maka para ibu harus rutin memberikan anak makanan berupa sayur mayur, buah-buahan dan ikan.

Kebutuhan akan asupan gizi yang cukup dan seimbang, kata Marjono, ya  bisa diambil dari lingkungan sekitar,  seperti sayur dan ikan yang harganya sangat terjangkau. Dan anak tidak harus makan ayam dan daging setiap hari, justru dengan mengkonsumsi ikan kandungan proteinnya jauh lebih tinggi, harganya murah dan terjangkau serta memiliki manfaat meningkatkan kecerdasan anak.

“Intinya,  di sini yaitu kepedulian dan pemahaman dari orangtua dalam memberikan gizi yang seimbang kepada anaknya,”sebutnya.

Ketika ditanya awak media terkait jumlah penderita gizi kurang yang ada di wilayah Puskesmas Malawei, kembali Marjono menjelaskan, setiap bulan petugas menemukan 2-3 anak dengan gizi kurang. Dalam hal ini, pihaknya langsung melakukan intervensi dan pendampingan dengan memberikan makanan tambahan berupa susu, bubur sun, kacang hijau dan sebagainya.

“Kami pantau perkembangannya, ada temuan satu dua saja. Intinya semua penderita gizi kurang dan gizi buruk kami lakukan pendampingan. Para penderita gizi kurang setelah diadakan pendampingan dan dipantau tiga bulan berat badannya sudah kembali ke normal,” aku Marjono.

Mengapa permasalahan kenapa baru ditemukan penderita gizi kurang,  yaitu karena para ibu masih kurang sadar, dimana mereka tidak mengakses layanan dengan baik dan tidak membawa anaknya ke Posyandu setiap bulan. Kalau anak dibawa setiap bulan ke Posyandu maka berat badan anak dapat dipantau dengan baik.

“Kalau dua bulan berturut-turut berat badan anak tidak naik maka petugas Posyandu akan langsung melakukan pendampingan dan intervensi. Intinya kalau orangtua mengakses posyandu dan anak rutin dibawa ke Posyandu, maka semua bisa terdeteksi dengan cepat,  dan bayi balita tidak akan mengalami fase yang namanya gizi buruk dan gizi kurang,” pungkasnya. (rim/red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.