banner 728x250

Jambore Kader Posyandu Pertama Dilaksanakan Di Papua Barat

banner 120x600
banner 468x60

20141020_105617

Lensapapua – Jambore kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang diikuti oleh semua distrik yang ada di Kabupaten Sorong merupakan jambore posyandu pertama kali dilaksanakan  di wilayah Papua Barat. Kegiatan yang dimulai hari ini dan berakhir 23 Oktober nanti, dibuka oleh Bupati Sorong Drs. Drs. Stepanus Malak, M.Si , yang berlangsung di SMA Bethel Aimas, Senin (20/10).

banner 325x300

Bupati Sorong dalam arahannya mengatakan,  sebagai pemerintah menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini oleh Tim Penggerak PKK setempat, semoga kegiatan yang sama nanti akan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

“Jambore kader posyandu merupakan ikatan emosional antara para kader dengan para pejabat yang terlibat langsung dengan program kegiatannya. Apabila penggerak posyandunya sehat  maka anggota yang dibina juga sehat,” ujarnya.

Sehubungan dengan itu, ia meminta kepada kader posyandu untuk membekali dri dengan pengetahuan maupun tukar pengalaman, yang lebih penting lagi terus membangun komunikasi antar sesama agar  perlu  dibangun. Dengan  membangun komunikasi yang baik itu maka akan memperoleh berbagai pengetahuan yang nantinya  bisa menambah wawasan, pengalaman dalam membina posyandu  yang ada di masing-masing distrik, harapnya.

Dengan pembekalan materi yang akan diberikan oleh SKPD terkait, diharapkan peserta dapat mengikutinya dengan baik. Lebih penting lagi peserta harus tetap menjaga kondisi agar tetap sehat, karena kegiatannya hingga empat hari ke depan.

“Menurutnya, posyandu merupakan penting sebagai salah sarana yang dapat berkembang di masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup ibu dan anak maka hal ini tidak diabaikan begitu saja, meskipun belum terprogram dengan baik, tetapi kebijakan ini sudah secara nasional melalui suatu instruksi hingga ke semua daerah.  Dengan demikian fungsinya secara maksimal dan dapat diberdayakan dalam rangka membangun kualitas hidup ibu dan anak,” jelas Bupati  Malak.

Dari laporan terakhir yang diperolehnya seperti masalah gizi buruk, masalah angka kematian ibu dan anak, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan membentuk karakter masyarakat dari pola budaya atau kebiasaan cara menangani kesehatan harus lebih sempurna lagi. Sebab masih ada saja yang terjadi di berbagai kampung yang ada di wilayah pedalaman, jika menjelang seorang ibu hamil  akan melahirkan  harus jauh dari pemukiman warga, karena jangan sampai keberadaan bayi tersebut akan membawa resiko terhadap kondisi di lokasi itu.

Memang secara logika bisa masuk akal. Karena ketika ibu melahirkan itu sendiri maka akan mendapat perawatan khusus sampai ibu dan bayi sehat hingga satu atau dua bulan baru mereka kembali ke rumah. Jadi ini merupakan nilai budaya yang sewaktu-waktu akan menjadi kearifan yang produktif.

Namun,  dengan memperhatikan berbagai perkembangan yang terbaru saat ini hal itu tak perlu lagi terjadi, karena hampir semua kampung sudah ada posyandu, pustu, polindes maupun puskesmas yang ada di setiap distrik maka hal ini menunjukkan adanya  penanganan kesehatan yang semakin baik, kata Bupati Sorong.

Kita perlu adanya suatu konsep pemahaman yang benar dimana kesempurnaan seorang bayi melalui berproses sejak masih dalam kandungan termasuk dalam proses integensialnya. “Hanya yang menjadi masalah hampir sebagian besar warga yang hidup di kampung-kampung  masih terkadang dalam proses persalinan ia sendiri yang menangani hal itu,”pintanya. (rim/Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.