Penanganan Stunting di Kabupaten Sorong Turun Signifikan Jadi 4,9%

banner 120x600
banner 468x60

Lensapapua – Saat ini penanganan stunting di daerah ini turun cukup signifikan.  Dari kisaran angka 28,7% turun menjadi 23,8% atau 4,9%.

banner 325x300

 

Itu merupakan satu hal yang paling baik bagi kita di Pemkab Sorong. Kalau kita hitung untuk tingkat Papua Barat, Kabupaten Sorong urutan kedua setelah Bintuni. Sedangkan, untuk kita saat ini di Papua Barat Daya meraih rangking satu.

 

Artinya, proses penanganannya cukup baik,  jelas Pj Bupati Yan Piet Moso, S.Sos, MM, melalui Kepala Dinas Kesehatan dr. Ronney Kalesaran di Aimas, Kamis (9/2-2023).

 

“Sebenarnya kita masih harus bekerja keras lagi.  Sekarang kita sudah berada di kisaran 23,8%. Sedangkan,  sasaran dari  pemerintah pusat pada tahun  2024 itu ada pada angka 14%,” ujarnya.

 

Jadi, masih sekitar 9 koma sekian persen itu yang harus kita kejar. Dan, sekarang kita kerja secara kolaboratif  mulai tahun kemarin sampai sekarang kerja-kerja kita sudah mulai dari OPD.

 

Kita akan kerja pada lokus-lokus stunting bagaimana setiap OPD kita kerja keroyokan agar bisa secepatnya menanggulangi stunting ini.

 

“Termasuk bagaimana peran Tim Penggerak-PKK dalam melaksanakan setiap program dan kegiatannya. Status stunting menjadi lokus ada dua, di mana  tempat-tempat anak stunting banyak, seperti yang disebutkan 1.000 hari pertama kehidupan, mulai ibu saat hamil sampai anak usia dua tahun” pungkas Ronney.

 

Biasanya untuk penanganan secara spesifik itu orang kesehatan.

Bagaimana menyiapkan air bersih, sanitasi, rumah layak huni atau rumah sehat.

 

Jika semua itu masyarakat sudah terjamin melalui JKN (jaminan kesehatan nasional) hal seperti itu harus dilakukan.

 

Jika, dia sudah terpenuhi maka kita berharap penanganan stunting ini bisa menurunkan secara bertahap.

 

“Memang patut kita akui, stunting salah satu yang paling ditakuti muali dari pemerintah pusat hingga sampai ke daerah itu sebenarnya kalau kita ambil hal-hal yang mudah bukan karena ukuran tubuh anak pendek. Tapi kalau anak yang kekurangan gizi, kemudian berakibat terhambat pertumbuhannya, maka ke depan kita bisa katakan secara kasar anak bisa jadi bodoh,” urainya.

 

Dampaknya anak itu akan terjadi ketergantungan kepada orang lain pada keluarganya. Hal seperti ini menjadi catatan penting bagi kita semua untuk segera mengambil langkah antisipatif sedini mungkin agar generasi kita ke depan akan tumbuh sehat, cerdas dan bisa mandiri, tuturnya. (rim/red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.