Sebanyak 4.000 Orang Penderita HIV-AIDS Se-Sorong Raya Dari Semua Kalangan

Lensapapua– Kegiatan pelatihan penanggulangan HIV-AIDS ditempat kerja yang dilaksanakan hari ini dihotel Aquarius Aimas, adalah menindaklanjuti kunjungan ILO pada bulan Juni lalu, kata Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Sorong, Acun. Kamis (04/12).

Acun menjelaskan, hal ini sudah sesuai dengan Permenakertras Nomor 68, bahwa setiap perusahaan wajib menatalaksana penanggulangan HIV-AIDS ditempat kerja, seperti kasus yang selama ini banyak terjadi diperusahaan swasta, sehingga ILO mempasilitasi kita didaerah untuk menghimbau semua perusahaan yang ada di Kabupaten Sorong, untuk bisa melakukan kegiatan deteksi dini penyakit HIV-AIDS ditempat kerja masing-masing, jelas Acun.

Untuk saat ini perusahaan yang sudah melaksanakan kegiatan seperti ini baru Klinik Pertamina JOB, Dan kegiatan kali ini diikuti peserta dari Yayasan Agustinus, PT.HIP, PT.Pertamina JOB, perusahaan Sawit Moisigin dan para tokoh masyarakat,  bagi perusahaan-perusahaan yang lain, nantinya kami yang memulai mengambil inisiatif, imbuhnya.

Acun berharap melalui pelatihan ini semua perusahaan yang ada diwilayah Kabupaten Sorong dalam hal ini Kliniknya harus bisa melakukan deteksi dini, agar jika terdapat karyawan yang sudah positif mengidap penyakit yang sangat mengerikan ini, diharap jangan sampai didiskriminasi, malah harus bisa lebih diperhatikan dari sisi ekonomi kerjanya, beber Acun.

Acun menambahkan informasi ini penting untuk kita ketahui bersama, karena sesuai data yang ada pada sekretaris KPA, per September 2014 ada 1.059 kasus HIV-AIDS, maka jika dihitung diseluruh Sorong Raya ada sebanyak kurang lebih 4.000 kasus yang kesemuanya berkeliaran, artinya 40 persen berkeliaran dan 40 persen sedang dalam pengawasan kami secara intensif,  dari grafik yang ada tersebut 40 persen penderitanya adalah para ibu rumahtangga dan 40 persennya dari swasta, selebihnya dari para pelajar dari semua level/tingkatan, tambahnya.

Hal inilah yang sangat sulit bagi kami, untuk bagaimana caranya memberikan pemahaman bagi masyarakat untuk bisa menerima informasi kasus ini, jika ditutupi terus menerus, maka bisa saja akan semakin berkembang dan penderita akan semakin bertambah, tetapi jika kita buka informasi ini kepada publik, apakah masyarakat bisa dan siap menerima hal ini, kata Acun.

Kami sudah selalu lakukan penyuluhan secara rutin setiap bulannya melalui berbagai organisasi kepemudaan maupun organisasi kemasyarakatan, dengan harapan dapat mempersiapkan masyarakat, supaya ketika informasi ini disampaikan tentang individu penderita tersebut bisa diterima masyarakat, dan kami juga sangat berharap sekali agar para penderita penyakit ini jangan didiskriminasi, mari kita secara bersama-sama melakukan pencegahan atau detekni lebih dini, untuk mengantisipasi penyebarluasan penyakit ini, imbau Acun. (Red)

Exit mobile version