Mama-Mama Papua di Pesisir Teluk Bintuni Sulit Pasarkan Hasil Kerajinan Tangan

Mama- mama pengrajin tas di Bintuni.

Lensapapua Bintuni  – Mama – mama Papua disebagian wilayah Pesisir Distrik Tomu kampung induk Taroi Kabupaten Teluk Bintuni Masih sulit untuk memasarkan hasil kerajinan Tangan olahan rumahtangganya. Hal ini menurut mereka selain membutuhkan biaya transportasi yang cukup besar, juga harga yang dipasarkan cenderung belum mampu menutupi nilai pengeluaran jika harus membawa hasilnya Ke Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni.

“ Biayanya cukup besar, kami harus berpikir jika mau ke Bintuni memasarkan. Kalaupun kesana, maka kami sering menumpang Kapal perusahaan yang ada, “ujar salah seorang pengarajin Tas yang terbuat dari daun Nipa, Ibu, S. Solowat.

Menurutnya, sebagian besar masyarakat pesisir adalah nelayan bagi kaum prianya, sedangkan bagi kaum perempuan adalah merupakan pengrajin pengolahan kerajinan tangan yang sudah turun temurun di ajarkan oleh nenek moyang mereka seperti mengayam daun tikar, kerajinan tangan membuat keranjang dan tas dari berbahan baku daun Nipa, dan Keranjang.

“ Kerajinan Tangan yang kami kelola adalah hasil kerajinan tangan sendiri, yangt telah di ajarkan bagi kami turun temurun. Harapan kami kedepan bisa ada wadah atau perhatian pemda untuk melihat hal ini agar kami dapat memasarkan kerajinan tangan kami secara berkelanjutan,”Harapnya

Ia menjelaskan, sepanjang waktu yang ada jumlah orderan jika rutin di kerjakannya dapat mampu sehari memproduksi kerajinan tangan jenis tas misalnya sebanyak tiga buah. Sedangkan untuk keranjang dan jenis tikar dapat mampu di buat dalam dua hari.

Menyinggung harga dari jumlah orderan yang di buatnya, Solowat mengatakan hanya mampu untuk membantu memenuhi kebutuhan belanja bahan pokok semata, jika sang suami tidak melaut. Juga sering di pergunakan sendiri jikalau di jualkan tidak laku habis terjual.

“Biasa hanya jual di kalangan masyarakat kampung, atau kita tukar dengan barang lain system barter. Terkadang kami pakai sendiri. Itulah kendala kami tidak habis terjual. Untuk harga bervariasi mulai dari Rp. 20.000,- sampai Rp. 200.000 jenis tikar misalnya,”jelasnya

“Harapan kami Cuma satu, Pemimpin atau kepala daerah harus bisa adil dan merata membangun daerah Kabupaten Teluk Bintuni, agar kiranya ada kesinambungan dan berkelanjutan manfaat pemerataan pembangunan yang baik natinya kedepan, “ paparnya (ian/RED)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.